oleh: Cucuk Espe
Senin, 23.09 WIB, Untuk Mas Markus,
Salam bahagia...Mas, saya sudah menerima surat Mas Markus, rasanya seneng sekali. Apalagi setelah memberi uang saku penjaga di depan, saya dapet pinjeman laptop, bisa onlen dan baca-baca komen di fesbook. Rasanya, dunia masih dalam genggaman saya.
Benar, Mas..meski saya sekarang tidak sebahagia Tante yang telah bebas dengan rekayasa syarat, tapi perlahan saya mulai betah, Mas. Semua yang disini bersahabat. Betul! Ada yang sering kasih pinjem hape, laptop, bahkan ngajak saya makan di kantin dekat ruang kepala. Rasanya saya menjadi tamu VIP, hehehe...
Mas, sekedar tahu. Jangan hiraukan berita di teve tentang saya. Jujur saja, saya terus mengikuti berita-berita itu. Kayaknya masalah saya ini ruwet, kusut! Sebenarnya tidak, Mas...kan biasa pegawai golongan III jadi tumbal agar golongan IV dan eselon yang lebih tinggi selamat.
Makanya, saya mau jadi tumbal, asalkan masih bisa plesir, ajojing di Macau, atau kencan di Singapura. Sebentar lagi...mungkin bulan empat, saya melancong lagi...(yg ini jgn diberitahu siapapun, mas...sebab sedang diatur, seolah ada masalah besar sehingga kepergian saya luput dari sorotan kamera).
Tenang, Mas Markus...apa sih yang tidak bisa direkayasa di negeri ini? Kemarin, saya ketemu Opa, dia semakin sehat karena terus mendapat dukungan dari kakak Opa yang di luar negeri itu. Oh..ya, ada salam dari Opa.
Cukup sekian ya...Mas Markus, hati-hati di luar. Akhir pekan, saya kasih saku orang-orang di depan, kita ketemu di tempat biasa yaa....
Salam Bahagia,
GAYUS HALOMOAN
Friday, February 4, 2011
BALASAN GAYUS ATAS SURAT MARKUS (21/01/2011)
Diposting oleh
Admin Blog
di
11:07 PM
0
komentar
SURAT UNTUK GAYUS
oleh: Cucuk Espe
Dik Gayus,
Gimana kabar di sana? Sahabat-sahabatmu masih baik-baik saja. Meski terkadang sedih membayangkan Dik Gayus akan kesulitan ‘dolan-dolan’ ke Singapura, Macau, atau cuma ke Bali. Meski begitu, seluruh sahabatmu yakin, Dik Gayus masih mampu melakukan semuanya. Bukankah Dik Gayus memiliki cara halus tanpa terendus? Kita yakin!
Meski Dik Gayus dituntut ‘ngamar’ tujuh tahun, tanpa banyak fasilitas seperti kamarnya tante yang full AC dan karaoke, tetapi jangan berkecil hati. Ada sahabatmu yang sanggup mengirim pasport dengan lebih sempurna. Yang kemarin itu desain drafisnya kurang sempurna, Dik!
Selain itu, mulai sekarang Dik Gayus harus sering memberi rokok, uang bensin, atau sekedar sawer kepada penjaga kamar, biar kalau keluar sekedar membeli sekuteng di cafe Kemang –favorit kita—bisa dengan gampang. Jangan lupa juga, belikan BB terbaru kepada penjaga itu. Sewaktu-waktu dapat dipinjam agar kita bisa saling ngobrol, janjian, atau sekedar ngerasani paman yang dituduh membunuh istri orang sepulang golf.
Eh, ada kabar baru Dik! Jika artis wajib hukumnya membuat pencitraan di hadapan masyarakat agar job-nya mahal. Tetapi kalau aparat bahkan pemimpin rame-rame bikin citraan tanpa mau melihat kenyataan? Edan kan? Woow...Dik Gayus tenang, bisa jadi sampeyan dijadikan komoditi citraan. Memang sih..dulu itu sampeyan keterlaluan ngambil duitnya. Tapi gak apa-apa, pendahulu sampeyan juga ada yang lebih rakus kok...
Sampai di sini dulu ya, Dik Gayus...pesan saya, jangan setengah-setengah menjalani sesuatu. Banyak contoh! Ada aparat setengah-setengah (gampang disuap), ada pemimpin setengah-setengah (malas kerja, banyak talk show), ada politisi setengah-setengah (cuekin rakyat, kibul pendapat). Ah...! Sudahlah Dik...Memang begitu jamannya.
Paman dan tante tadi titip salam.
Saudaramu,
Markus Halomoan
Diposting oleh
Admin Blog
di
10:58 PM
0
komentar
Monday, September 6, 2010
SEGERA...PENTAS MONOLOG (keliling Jawa-Bali)

Teater Kopi Hitam Indonesia
mempersembahkan
Monolog Cucuk Espe
JENDERAL MARKUS
Aktor: Cucuk Espe
Music: Farid Khuzaini
Artistik: Fibia Renjani
Manajemen/Promo: Anjrah Lelono dan Yunan Natsir
SEGERA DI ENAM KOTA MULAI OKTOBER 2010
Jakarta - Solo - Surabaya - Malang - Jombang - Denpasar)
Info:
Teater Kopi Hitam Indonesia
Jalan Cokroaminoto 34, Jombang, Jawa Timur, Indonesia
Telp. 0321 6983069 / 081331836458
FB. teaterkopihitam@yahoo.co.id
Didukung
Glow Box - Frame-X - LBTI - Radar Minggu.
NB:
(Tanggal dan HTM tunggu info lebih lanjut)
Diposting oleh
Admin Blog
di
2:41 AM
0
komentar
Thursday, September 2, 2010
NEKOLIM ERA SBY
Oleh: Cucuk Suparno, penulis dan budayawan
Neo Kolonialisme dan Imperialisme (Nekolim) pernah populer di era Orde Lama. Bahkan kalangan nekolim sempat dicap komunis sehingga menjadi musuh utama negara.
Tetapi, di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini, nekolim memperoleh tafsir baru dan semakin kuat mencengkeramkan kukunya di bumi Indonesia tercinta ini. Nekolim abad 21!
Isu penjajahan dan penindasan dengan cara baru (baca; nekolim) sebenarnya isu lama. Isu tersebut pernah menyita perhatian dunia ketika Soekarno memerintah di era Orde Lama. Nekolim dianggap antek Partai Komunis Indonesia (PKI) yang bergerak merusak sendi-sendi pejuangan kaum revolusioner. Nekolim dicap telah memporakporandakan keteraturan sistem ekonomi, politik, dan hukum di era itu sehingga nekolim harus diberangus!
Tetapi sadarkah, justru di abad 21 ini, di era pemerintahan SBY-Boediono, kita merasakan dan menemukan nekolim gaya baru telah merusak sendi perikehidupan berbangsa dan bernegara. Gaya/ strategi yang digunakan adalah baru, maka banyak mengecoh publik. Bahkan, tanpa sadar –mungkin—kita sedang terseret dalam arus besar nekolim.
Neo kolonialisme dan inperialisme kini (nekolim) telah bermetamorfosis sehingga memperoleh tafsir baru yang lebih kontekstual. Nekolim abad 21 merupakan gerakan simultan –dalam arus besar—yang memosisikan rakyat sebagai obyek pembangunan nasional. Artinya, nekolim di era kekinian telah membabat visi ‘kedaulatan berada di tangan rakyat’ digantikan dengan ‘kedaulatan berada di tangan pejabat dan konglomerat’. Imbasnya, rakyat menjadi lemah dan tidak memiliki posisi tawar sama sekali.
Cakar Nekolim
Sudah 65 tahun secara de jure kita merdeka. Patut disyukuri, berkat perjuangan panjang yang mengorbankan segala jiwa dan raga, akhirnya Indonesia berhasil memproklamirkan diri sebagai negara merdeka. Proklamasi –secara hukum—merupakan tonggak batas era penjajahan dan kemerdekaan. Tetapi secara de facto, situasi sosial, politik, hukum, hankam, dan kebudayaan masih jauh dari merdeka. Hampir setiap waktu, kita menyaksikan penjajahan baru menggilas kemerdekaan asasi.
Inilah yang saya sebut nekolim abad 21 atau lebih mengerucut nekolim era SBY. Sebagai figur pemimpin, SBY memang tokoh yang tiada tanding. Berwibawa, ahli setrategi, disegani, meski terkadang terkesan melow (sering curhat). Nah! Di era kepemimpinannya inilah cakar nekolim semakin kuat mencengkeram hampir di semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
Coba amati, praktek kolonialisme di bidang pendidikan yang memperburuk citra dan prestasi pendidikan nasional. Dilihat dari setrategi pengelolaan pendidikan, Indonesia menduduki peringkat 112 dunia di bawah Myamar, Thailand, dan Vietnam (per Juli 2010). Padahal negara-negara itu –10 tahun lalu—jauh di bawah kita. Ditambah lagi, pemberian beragam status (palsu?) terhadap sekolah-sekolah sesuai sistem pendidikan nasional seolah menciptakan kesenjangan sosial semakin kuat.
Status RSBI, Akselerasi, SBI merupakan bentuk pengejawantahan sekolah itu mahal dan tidak bisa dimasuki siapa saja meski cerdas. Uang memegang peranan penting. Inilah yang saya sebut kita telah dijajah oleh sistem pendidikan yang diciptakan pemerintah.
Di bidang kesehatan, hadirnya jaminan kesehatan (jamkesmas) bagi keluarga miskin adalah terobosan yang melegakan masyarakat. Ironisnya, jamkesmas justru dimainkan oleh birokrat mulai tingkat desa hingga pihak rumah sakit dan masyarakat miskin semakin terjepit ketika harus mengurusnya.
Apalagi di bidang ekonomi, Indonesia menjadi negara dengan indeks pengangguran sangat tinggi. Angka pengangguran ini membias kepada meningkatnya penyakit sosial (kriminalitas) serta meningginya gelombang migrasi. Dari desa ke kota maupun antar negara dengan menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Situasi ini diperparah dengan mahalnya biaya hidup di Indonesia. Harga sembako yang menjadi hajat primer melonjak melangit. Masyarakat –terutama lapisan menengah ke bawah—semakin sulit ‘melayakkan’ kehidupan mereka. Inilah kenyataan sosial yang telah dicakar nekolim!
Mental Nekolim
Mental korup, tidak jujur, mencari keuntungan di balik proyek publik, merekayasa program sosial demi keuntungan pribadi merupakan ciri utama mental nekolim. Menurut saya, mental-mental demikian masih tumbuh subur di kalangan aparat dan birokrat di semua jenjang, mulai pusat apalagi di daerah.
Bukti paling mudah, berapa banyak pemimpin daerah (bupati dan walikota) yang kini masuk bui? Juga cukup banyak masyarakat pendidikan (guru dan kepala sekolah) yang terjerat kasus korupsi dana pendidikan. Ditambah lagi, laku tidak jujur yang menjadi lakuan utama para anggota legislatif di pusat maupun daerah. Tujuan semua perilaku tersebut cuma satu; saya harus untung, tak peduli bagaimana caranya!
Nah, nekolim gaya baru ternyata telah mengkooptasi harapan rakyat untuk hidup sejahtera dan memperoleh keadilan. Yang lebih memprihatinkan, aksi nekolim ini dilakukan secara simultan oleh pemerintah. Akibatnya masyarakat menjadi korban kebiadaban mental pemimpinnya sendiri. Keadilan tidak merata, kesejahteraan hanya dinikmati segelintir orang adalah ciri masih kuatnya cengkeraman cakar neokolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Inilah nekolim di era SBY! (*)
sumber; kabar indonesia eds.18/08/2010)
Diposting oleh
Admin Blog
di
9:36 PM
0
komentar
Blogger Buzz: Blogger integrates with Amazon Associates
Blogger Buzz: Blogger integrates with Amazon Associates
img src="http://static.technorati.com/pix/fave/tech-fav-1.png" alt="Add to Technorati Favorites"
Diposting oleh
Admin Blog
di
9:24 PM
0
komentar
